JK Akan Mendeklarasikan Pencalonannya pada 3 Mei Siap Deklarasi Capres Empat Hari Lagi

JAKARTA - Jusuf Kalla semakin percaya diri (pede) pada langkahnya yang siap maju menjadi calon presiden (capres) bagi Partai Golkar. Bahkan, dia berjanji mendeklarasikan pencalonannya, termasuk cawapres yang akan digandeng, pada 3 Mei mendatang.

Padahal, sejauh ini belum terdeteksi secara jelas seberapa konkret komitmen koalisi antara Golkar dengan partai-partai lain, termasuk dengan PDIP. Meski, Kalla sudah terlibat pembicaraan serius dengan Megawati Soekarnoputri (ketua umum DPP PDIP).

Soal itu, Kalla menyatakan, salah satu pasal paling alot dalam pembicaraan koalisi adalah penentuan siapa yang menjadi capres dan siapa yang menjadi cawapres. Itu terjadi karena seluruh parpol sudah memiliki capres. Namun, Kalla yakin, dalam sehari-dua hari ke depan sudah diperoleh satu nama capres-cawapres yang akan diusung bersama oleh sejumlah partai.

Dia yakin tokoh-tokoh dari sejumlah parpol yang berkoalisi nanti menurunkan tuntutannya (dari capres ke cawapres) dan akan sepakat mengajukannya sebagai capres. ''Sekarang sedang ada pembicaraan intensif. Saya yakin pada 3 Mei (capres-cawapres) sudah kami deklarasikan,'' ujar Kalla dalam keterangan pers di Media Lounge DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat, kemarin (28/4).

Tampaknya, dia percaya diri karena bisa jadi sudah mengantongi satu nama cawapres, meski pembicaraan koalisi dengan PDIP dan Gerindra belum satu kata. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Kalla akan berkoalisi dengan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto.

Setelah menyampaikan keterangan pers tentang ketetapannya untuk maju sebagai capres, Kalla memang menemui Sekretaris Jenderal DPP Hanura Yus Usman Sukmanegara serta sejumlah petinggi Hanura. Wiranto dan Kalla sebelumnya bertemu empat mata pada Sabtu pekan lalu. Setelah berbicara selama sejam, kedua tokoh tersebut sepakat membangun koalisi yang lebih besar dalam pemilu presiden.

Bagaimana dengan perkembangan rencana koalisi antara Golkar dengan PDIP? Itu pun, tampaknya, belum menunjukkan tanda-tanda signifikan, meski kemarin tim enam PDIP dan tim enam Golkar terlibat pembicaraan tertutup di Hotel Nikko, Jl M.H. Thamrin, Jakarta.

Pembahasan antara dua tim itu berjalan alot. Kedua tim belum bisa mencapai kompromi mengenai formulasi koalisi yang akan dibangun. ''Kami ini kan tim teknis yang hanya merumuskan kegiatan atau konsep, apa yang bisa dibangun PDIP dan Golkar,'' ungkap Sekjen DPP Partai Golkar Soemarsono, salah seorang anggota tim enam, setelah rapat.

Menurut dia, tim teknis kedua parpol baru sebatas merencanakan koalisi besar enam partai politik, yakni Golkar, PDIP, Hanura, Gerindra, PPP, dan PAN. Melalui koalisi besar itu, kata Soemarsono, diharapkan terbangun pemerintahan yang kuat dan stabil, baik di kabinet maupun parlemen.

''Kami juga merencanakan pertemuan para ketua umum partai yang masuk koalisi besar ini,'' ujarnya.

Dari tim enam Golkar, tampak pula para ketua DPP Partai Golkar. Di antaranya, Burhanudin Napitupulu, Syamsul Muarif, Yuniwati, dan Simon Patrismorin. Hanya Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar Surya Paloh yang tidak hadir.

Dari kelompok PDIP, ada Sekjen PDIP Pramono Anung, anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP Sabam Sirait, dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (BP Pemilu) Tjahjo Kumolo. Ketua Deperpu PDIP Taufiq Kiemas, Ketua BP Pilpres Theo Syafei, dan Ketua DPP PDIP Bidang Pemberdayaan Perempuan Puan Maharani yang juga masuk tim enam tidak hadir dalam rapat tersebut.

Apakah Kiemas dan Surya Paloh yang selama ini aktif berusaha menjodohkan PDIP-Golkar tidak hadir karena alotnya pembahasan? ''Kan sudah diwakili Sekjen kedua partai,'' tegas Tjahjo Kumolo lantas tertawa.

Pramono Anung merasa optimistis koalisi besar itu bisa diwujudkan. Apalagi, secara paralel, sudah ada pertemuan yang cukup intensif antara Mega-Prabowo, Kalla-Wiranto, dan Suryadharma Ali, meski masih belum dipublikasikan.

Kalau PDIP berkoalisi dengan Golkar, siapa yang akan menjadi capres, Megawati atau Kalla? ''Harus ada kebesaran hati untuk duduk bersama. Kami meyakini akan ada kesepakatan, akan muncul satu nama, dan siapa nama itu (tunggu saja, Red) dalam satu-dua hari ini,'' jawabnya.

Ketua DPP Partai Golkar Syamsul Muarif menambahkan, dalam waktu dekat Kalla dan Megawati bertemu lagi. Sebelumnya, dua pucuk pimpinan itu bertemu di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jumat malam (24/4).

Dia menuturkan, rapat tersebut menyerahkan sepenuhnya keputusan final mengenai bentuk koalisi, termasuk siapa yang harus ''mengalah'' kepada Megawati dan Kalla. ''Tinggal gongnya di dua ketua umum. Soal capres-cawapresnya juga kami serahkan kepada mereka berdua beserta alternatif yang disiapkan,'' ungkapnya.

Apakah kesepakatan itu hanya berkaitan dengan PDIP dan Golkar? ''Tentu tidak. Kalau hanya berdua, namanya bukan koalisi besar,'' tegas Syamsul.

Peluang JK-Wiranto

Pengamat politik Muhammad Qodari yang juga direktur Indo Barometer memaparkan hasil surveinya, elektabilitas (tingkat keterpilihan) Jusuf Kalla kini berada di kisaran empat persen, jauh di bawah SBY yang mencapai 45 persen dan Megawati 14 persen.

Elektabilitas Wiranto bahkan lebih rendah daripada Jusuf Kalla.

''Bila head to head dengan SBY-Hidayat Nurwahid dan Megawati-Prabowo, pasangan JK-Wiranto sangat berat untuk menang. Mereka harus bekerja keras dengan dukungan logistik yang sangat kuat," ujarnya.

Qodari menilai pasangan JK-Soetrisno Bachir lebih menarik daripada JK-Wiranto. Meski tidak ada unsur militer, pasangan JK-Soetrisno Bachir akan tertolong karena ada paduan tua-muda.

''Logistik Soetrisno Bachir juga lebih banyak daripada Wiranto. Kalau saya lihat, logistik Wiranto sudah habis sehingga JK akan kelelahan karena harus mengongkosi jauh lebih banyak," terangnya.

Golkar, menurut dia, seret jodoh karena nilai politis partai itu lebih rendah daripada nilai elektabilitasnya di pemilu legislatif yang mencapai 14-15 persen.

''Ini karena internal Golkar tidak solid. Sehingga baik Megawati maupun SBY ragu-ragu mengajak Golkar. Bisa jadi, keputusan partai koalisi dengan SBY, tapi ada yang merapat ke Mega, begitu pula sebaliknya," paparnya.

Qodari menilai pasangan Megawati-Prabowo Subianto lebih di atas angin daripada JK-Wiranto. Popularitas Megawati dinilai masih stabil, sementara elektabilitas Prabowo masih bisa ditingkatkan. Satu lagi, kelebihan Prabowo adalah dukungan logistik yang besar sehingga mampu mengimbangi logistik Megawati yang mulai kehabisan napas.

Kalla Bantah Golkar Pecah

Jusuf Kalla kemarin menegaskan bahwa tidak ada perpecahan di tubuh Golkar. Ini menjawab spekulasi yang sebelumnya menyebutkan bahwa mayoritas DPD I melalui surat yang mereka buat minta agar JK menganulir pencalonannya sebagai capres.

''Surat itu dianggap menghebohkan, seolah-olah ada kebijakan yang berbeda dari keputusan rapimnas,'' kata Kalla. ''Dipersepsikan Golkar pecah, padahal tidak ada yang pecah,'' tandasnya. (noe/pri/kum)
subscribe

Subscribe

Monitor continues to update the latest from This blog directly in your email!

oketrik

0 comments to JK Akan Mendeklarasikan Pencalonannya pada 3 Mei Siap Deklarasi Capres Empat Hari Lagi :